#Sakit

Awal Dari Sebuah Penolakan

Gue bergegas ke sekolah sambil membawa kado hasil kerja keras gue semalam. Tentu dengan pemikiran jangka panjang, gue gak akan menyimpan kado itu di dalam kelas. Yah, di kelas gue aja bolpen bisa ilang, apalagi kado.

Untung gue punya temen yang rumah saudaranya ada di deket sekolah. Di sanalah kado gue akan terjaga dengan aman. Jadi, gue pun langsung aja menitipkan itu kado di rumah saudara temen gue.

Rencana awal, gue mau ngasih kado ini ke Elfie pas jam istirahat. Kalau suasananya pas, gue juga mau nembak Elfie saat itu juga. Gue gak mau mendam lama-lama keinginan gue buat mendapatkan cinta Elfie. Nyesek ketika gue harus tersenyum mendengar dia cerita tentang orang lain. Menyedihkan ketika gue dipaksa tertawa terbahak mendengar dia cerita hari-hari lucunya bersama orang lain. Sekarang saatnya dia tau bahwa orang yang pantas untuknya sebenarnya sudah ada. Dia yang selalu menemaninya, menghiburnya, menyemangatinya dan dia itu adalah gue! *setel backsound padamu negeri.

Jam istirahat pun tiba. Gue langsung lari mengambil kado yang tadi pagi gue titipkan di rumah saudara temen gue. Ketika kado udah di tangan, gue segera beranjak ke kelas Elfie. Dengan langkah seribu, gue jejaki jalanan membawa bungkusan berbentuk kotak dan bermotif bunga unyu. (more…)

Persiapan Sunatan yang Mencekam

Suasana lebaran adalah suasana yang syahdu. Semua umat Islam berbondong-bondong merayakan hari kemenangannya dan bermaafan antar sesama. Nggak lupa, diantara mereka banyak yang pergi ke rumah-rumah saudara dengan harapan mendapat uang THR, namun yang ada, pertanyaan :

“Kapan nikah?”

Yang mereka dapatkan. Selepas itu, mereka lebih memilih untuk pura-pura mati aja, tanpa mendapat uang THR sepeser pun.

Mengenaskan.

Dari sekian banyak suasana lebaran yang dirasakan oleh orang-orang, mungkin suasana lebaran adik gue lah (Nova) yang paling mencekam.

Pasalnya, tepat setelah Gue dan Nova pulang dari Shalat Ied, Ibu yang sudah lebih dulu sampe rumah langsung bilang :

“Nov, besok kamu sunat ya” (more…)

Ngomongin sunat

“Sunat itu rasanya gimana sih, Mas?”

Disuatu sore yang syahdu, ketika gue lagi nonton TV di kamar, tiba-tiba adik gue (Nova) masuk ke dalam, tiduran di samping gue, terus ngajuin pertanyaan demikian.

Gue menoleh, melihat muka Nova. Dia balik menoleh, ikut-ikutan melihat muka gue. Kini, kami berdua saling memandang. Raut wajah Nova serius, seakan dari situ menunjukkan bahwa dia yakin mau disunat pada liburan kenaikan kelas besok. Raut wajah gue biasa, seakan nggak ada niat buat sunat untuk kedua kalinya.

“Kayak digigit semut doang kok” Jawab gue tanpa niat untuk menakut-nakuti Nova.

Nova masih memandangi gue serius, alis matanya dia naikkan sewaktu gue jawab pertanyaannya.

“Digigit semut? Ini digigit semut?” Tanya adek gue sambil menunjuk-nunjuk selangkangan.

“Iya, ya emang gitu. Nggak sakit” Kembali, gue mencoba menenangkan Nova dengan memberi kesan kalau sunat itu enak, siapa tau nanti dia ketagihan buat disunat 5 kali. (more…)

Nuntun Motor

Coba gambarkan bagaimana perasaan kalian kalau suatu malam dapet pesan :

“Mas, kamu besok berangkat ngampus aku jemput ya? Aku boncengin wis. Motorku satunya ada di bengkel deket kampus. Nanti pulangnya biar kamu bawa motorku yang dibengkel itu. ya?

Padahal jarak antara rumah dengan kampus itu 28Km dan bensin yang harus dihabiskan itu sekitar 1 liter.

JELAS SENENG. HEMAT BENSIN. HEMAT TENAGA.

Percayalah teman, apa yang kita asumsikan diawal nggak selalu sesuai dengan kenyataan.

Iya, kemarin malem gue dapet pesan persis kayak gitu dari Mak Dea. Seorang temen cewek yang suka nyemilin batu bata. Gue menyanggupi karena emang tawaran dijemput dan diboncengin berangkat ngampus itu sangat menguntungkan. Bener-bener menguntungkan.

Jadilah disuatu pagi, Mak Dea njemput gue dirumah. Beberapa saat setelahnya, kami berdua pun meluncur cepat menuju kampus, dengan terik matahari pagi yang lumayan menyengat dan juga dengan posisi gue yang diboncengin Mak Dea. (more…)