#Beby

Hari berkesan

Pagi itu sekitar pukul 00.22, gue masih terbangun dengan posisi rebahan di atas kasur. Hening. Nggak ada suara bising yang gue dengar malam itu. Damai. Nyaman. Tangan gue mengambil hape yang tergeletak di sisi kanan kasur, kemudian, jemari gue mencari kontak BBM Beby. Perlahan, gue lihat display picture yang dia pasang. Walaupun pagi itu gue sendirian, tapi, di pagi itu pula, gue melihat bahwa kami berdua bersama di dalam sebuah display picture.

“Sayang, hari ini aku ulang tahun loh :’)” (more…)

Malam Minggu

“Malem ini mau kemana, yank?”

Pesan singkat Beby terkirim di hape gue sekitar pukul 18.43. Malem itu adalah malam minggu. Malam yang kami berdua tunggu-tunggu. Berawan hitam. Mendung. Cuaca malam itu sedikit kurang bersahabat, dikarenakan sebelumnya, sewaktu sore hari, ketika Gue sama Beby kopdar bareng Mbak Aqied dan Mbak Tika, Si jomlo emas yang nggak bisa move on dari masa lalunya, Mbak Tika, dia sudah lebih dulu membakar kemenyan dan berdoa semoga malam harinya hujan.

Doa jomlo memang mengerikan.

“Taman lampion, mau?” Gue membalas pesan sambil mengenakan kemeja merah hitam.

“Taman? Mendung loh sayang. Café Ambarukmo Plaza aja, yuk?” Beby kembali membalas.

“Yuk”

Bersamaan dengan pesan balasan itu, gue pun segera menjemput Beby.

Xxxxx

“Ayaaaaaaaaaaaaank” Jerit Beby malam itu setelah dia membuka gerbang kostnya.

“Ayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaank” Gue ikutan jerit sambil kayang diatas motor.

“Mmmuuuuuaaaaaaaaaaaaaaaaaah” Beby memonyongkan bibirnya dan mencium udara.

“Mmmmmmuuuuuuuuuaaaaaaccccccccch” Gue pun ikutan memonyongkan bibir, menerima udara yang barusan dicium Beby.

So swit.

So swit endasmu.

Malam itu, Beby mengenakan kaos item dikombinasi dengan celana kain item. Cantik. Dimata gue, dia memang selalu cantik. Kalau bilang jelek, nanti gue digampar.

Setelah tragedy ‘emmuah-emuahan’, Beby pun segera membonceng gue. Malam itu, disertai dengan hawa dingin yang menyelimuti, kami berdua melaju pelan menuju Ambarukmo Plaza.

“Malem ini akhirnya kita malam mingguan juga. Yeeaaaaaaaay” Beby berucap di belakang gue sambil menikmati perjalanan.

“Yeaaaaaaaaaaaaaay” Gue mengangkat tangan kiri ke atas, tanda gue bahagia.

“Nanti kita ke Café, terus ngobrol bareng sampai malem. Yeaaaaaaaaaaaaaay” Beby kembali berucap, sekarang dia meluk gue kenceng banget.

“Yeeaaaaaaaaaaaaaaaaaay” Gue mengangkat tangan kanan ke atas, tanda gue sangat riang gembira.

“Aku sayaaaaaaang banget sama kamu. Yeeaaaaaaaaaay” Beby berucap pelan, kemudian menyandarkan kepalanya dipunggung gue.

“Yeaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaay” Gue mengangkat kedua tangan, berdiri diatas jok motor terus koprol 2 kali diudara, tanda gue hilang akal karena cinta yang mendalam.

Ciyeeeeeeeh.

Kami pun sampai di parkiran setelah sebelumnya dipaksa menikmati penat macet yang menjengkelkan. Kami berdua berjalan, berdampingan, berpegangan tangan, bercanda bersama tanpa memperdulikan banyaknya orang yang lalu lalang.

Awalnya masih biasa aja. Beby dengan nada manja meminta biar gue berjalan cepat menuju sebuah café yang akan kami tuju. Seolah semuanya akan berjalan sesuai rencana. Sampai akhirnya, semua berubah ketika kami tiba di lantai 1 Ambarukmo Plaza…

Baru beberapa detik menapakkan kaki di lantai 1, pandangan Beby langsung menatap lurus ke depan. Gue yang awalnya memandangi dia penuh rasa sayang, kemudian dengan perlahan menoleh kearah titik fokus yang Beby pandang.

DISCOUNT UP TO 80% JUST FOR 10 DAY!!!

Gue menelan ludah.

Dari situlah, langkah Beby berubah haluan. Dengan langkah cepat, dia menuju ke arah tulisan DISCOUNT 80% tersebut. Sejurus kemudian, dengan lihai dia berkelok-kelok melewati tumpukan pakaian dan celana, kemudian, dia pun berhenti di tumpukkan sepatu.

Satu persatu sepatu dia coba. Dia angkat kakinya ke atas, dia terawang dengan cermat, kemudian dia letakkan kembali, memberi tanda kalau sepatunya kurang cocok.

“Sepatu ini bagus, Yank” Beby ngajak ngobrol gue, dengan pandangan terus menerawang sepatu yang akan dia pilih.

“Iya sayang. Bagus banget” Gue menjawab seadanya.

“Sayang disini sebentar. Jaga sepatu ini. Jangan sampai ada yang beli. Aku mau milih yang lainnya” Pinta Beby, kemudian dia pergi berpetualang mencari sepatu idaman.

Disanalah gue, berdiri sendirian, memegangi sepatu cewek berwarna item. Sendirian.

1 menit berlalu, gue masih memegang sepatu hitam itu. Sendirian.

5 menit berlalu, gue mencoba menerawang sepatu hitam tersebut. Sendirian.

12 menit berlalu, Beby datang membawa sepatu yang juga berwarna hitam, tapi dengan model yang berbeda. Dengan menggebu dia mencoba 2 sepatu tersebut. Membandingkan, mana sepatu yang cocok dia pakai untuk wisuda kelak.

Akhirnya, pilihan jatuh pada sepatu yang selama 12 menit gue jaga dan gue terawang-terawang. Beby merasa puas. Gue pun merasa Beby lebih cocok menggunakan sepatu itu buat wisuda besok.

Setelah bener-bener membeli sepatu, kami berdua pun berjalan, menuju café yang seharusnya sudah dari tadi ingin kami tuju.

Selama berjalan, gue bertanya pelan.

“Ternyata, milih sepatu itu susah juga ya?”

Beby menoleh ke arah gue. Yang dia liat cuma ketek gue. Dia pun menaikkan pandangannya, kini yang dia liat bener-bener muka gue. Lalu, dengan senyum simpul manisnya, diikuti dengan pegangan hangat dari tangan kanannya, dia berucap mantap :

“Iya susah, kayak milih kamu buat jadi pendamping hidup aku kelak”

Setelah pertemuan itu…

“Kita mau kemana, Yank?” Beby bertanya, tangannya masih bertautan dengan tangan gue. Langkah kakinya menapak mengikuti langkah gue.

“Ke parkiran, Yank” Gue menjawab seadanya, dengan langkah cukup cepat. Bahu gue encok menggendong tas yang Beby bawa.

Suasana bandara pagi itu cukup ramai. Beberapa orang menjemput sanak saudaranya, beberapa orang lain sibuk mencari orang yang akan dia jemput, sisanya sibuk mencari hidayah Tuhan yang maha esa.

Gue sama Beby berjalan beriringan, melewati jalan-jalan yang penuh dengan kerumunan orang. Sesekali kami saling menanyakan kabar, melepas rindu yang entah dari kapan terbentuknya.

Kami berdua telah sampai di parkiran. Gue letakkan koper besar yang dibawa Beby dibelakang motor, gue letakkan tas yang dari tadi gue gendong di atas jok motor, Beby pun meletakkan kardus bolu meranti di atas jok motor orang. (more…)

Pertemuan Pertama

“Sayang, aku barusan check in ya. Ini bentar lagi naik pesawat”

Suara yang terhubung dari Medan menyapa, sekitar pukul 05.54 Beby memberi kabar bahagia buat gue yang udah lama nunggu kapan hari itu kejadian.

“Iya sayang, aku tunggu ya”

Suara ambyar yang terhubung dari Jogja membalas, sekitar pukul 05.57 gue memberi kesan nggak jelas buat Beby yang udah duduk di pesawat.

Seiring dengan itu semua, gue pun lanjut tidur dan membiarkan Beby terkotang-katung di Bandara.

Kalau semua itu bener gue lakuin, kemungkinan besar gue nggak bisa ngetik tulisan ini karena gue udah lebih dulu koma karena di lempar koper sama Beby. (more…)