Bakar-Bakar Suddenly Kebanjiran

Kemarin ku kembali bertemu dengan temanku. Kali ini aku yang mengajak mereka melakukan perkumpulan, mengingat pada kesempatan sebelumnya, ku merasa bahwa momen-momen kebersamaan itu akan sulit terulang dan mungkin terlaksana. Maka dari itu, selagi masih hidup dan bisa, aku membuat ide bakar-bakar perdagingan yang berlokasi di rumah Dian, karena kebetulan, hanya dia seorang yang memiliki kompor portable dan wajan pembakaran.

Kami berjanjian sekitar pukul dua siang, tapi realitanya lebih satu jam, mengingat siang itu hujan dan motorku secara sialan kebocoran. Ada paku yang secara tidak sopan tertancap di ban belakang. Jadi mau tidak mau, yasudah biar semesta yang berkehendak.

Aku datang paling belakangan, dan pakai jas hujan. Ternyata di rumah Dian tidak hujan. Letak geografis rumahku dan rumah Dian memang harus menyeberang perbatasan Kota – Kabupaten, jadi ya wajar saja. Di sana Farkhan sudah duduk di meja makan sembari menggenggam ponsel secara horizontal dengan tampilan layar freefire. Dian memangku gitar dan menggenjrengnya. Aku melipat jas hujan lalu masuk sembari mengucap salam.

Mantap jiwa.

Di dalam perjanjian perkumpulan ini, seharusnya yang bertugas untuk membawa daging beserta bumbu-bumbunya adalah diriku. Namun karena aku adalah pembangkang, maka sore itu aku tidak membawanya. Lalu, bagaimana solusinya? Tentu saja, aku meminta pertolongan pada pasukan berjaket hijau yang kebetulan bernama Abang Grab.

Ku pun memesan paket daging yang biasa buat bakar-bakaran di sebuah tempat makan bernama bong-obong. Tak lupa, karena ku adalah sobat promo, kumasukkan kode CICIP40 untuk mendapatkan potongan sebesar 40% dengan maksimal potongan senilai Rp. 40.000. Lumayan, daripada tidak sama sekali. Ahuy. Terimakasih Grab-kuh auw.

Sembari menunggu pesanan datang, kami bertiga bernyanyi-nyanyi ria dengan sang satria bergitar bersuara diperankan oleh Dian, sedangkan aku memainkan mulut dan harmonika. Farkhan awalnya kupinta untuk mengisi suara drum virtual lewat hapenya, tapi nampaknya agak berat sehingga suara tembakan dari layar freefire sebagai wakil yang, yah, emang dia bajingan yang sungguh.

Ngapapa. Kehidupan.

Tidak lama berselang, bapak-bapak baik berjaket hijau datang membawa pesanan. Kami bertiga tersenyum senang. Bapak berjaket hijau pun demikian, karena uang yang awalnya kugenggam kini beralih kegenggam sang bapak. Impas. Sama-sama bahagia.

Dian pun menyiapkan peralatan memasaknya dibantu oleh seorang istri yang sungguh disayanginya semenjak dahulu. Farkhan, dia mengubek-ngubek daging yang telah dibumbui biar makin merata dan mantap jiwa. Aku mencoba memotreti satu persatu adegan, agar terekam dan bisa dikenang suatu saat di masa depan.

Hal yang menyenangkan dari metode bakar-membakar daging ini adalah, kami tidak semata-mata berkumpul hanya untuk makan dan selesai. Melainkan kami menikmati proses membakar, sembari diisi dengan obrolan-obrolan yang menyenangkan.

Nggak ada hening sedikitpun dari agenda pembakaran kemarin. Meski satu-persatu orang mencoba untuk saling mendahului dalam menyomot daging yang sudah matang, tapi tetap, obrolan tiada berhenti dan menenangkan hati yang sepi aw aw aw. Oiya, kemarin aku pun sudah menitipkan salam yang diberikan dari Afrianti Pratiwi di twitter kepada si Farkhan. Responnya bagaimana? biar semesta saja yang bekerja selanjutnya uwawaw.

Oiya, kemarin yang bertugas membakar dan membolak-balikkan daging adalah istri Dian, karena itu permintaan Dian dan agar ramai saja. Dian dia bertugas mengambil daging yang sudah matang, lalu dipindahkan ke mulutnya sendiri. Mulut Istrinya? Sepertinya tidak, karena dari kemarin kulihat dia mengenakan masker dan bilang bahwa sudah kenyang. Aku bertugas merekam dan kadang makan beberapa daging. Farkhan, dia bertugas meratakan bumbu pada daging, mengoperkannya ke istri Dian, lalu menyantap daging-daging yang telah matang.

Mantap.

Kenyang bego, tentu adalah hal yang kami bertiga rasakan. Sekitar menjelang maghrib, kami selesai dengan urusan permasakan dan berpindah untuk mengobrol di ruang tamu. Kala itu, hujan turun dengan sangat deras dan petir menyambar amat silau serta mendebarkan.

Kami bertiga masih tidur-tiduran di sofa bersama sembari mengobrol tentang apa saja. Sempat terbesit cerita bahwa rumah Dian, khususnya di bagian ruang tempat makan yang tadi kami pakai untuk bakar-membakar, sebelumnya pernah kejadian tergenang air semata kaki jika hujan deras. Kami bertiga menertawai, seolah tidak menyadari bahwa itu di luar hujannya sangat deras dan durasinya cukup lama.

Oiya, sekedar informasion yak. Jadi, elevasi rumah Dian itu untuk ruang makan sama ruang tamu berbeda, yaitu memiliki selisih sekitar 25 – 30 cm kayaknya. Kita wakilkan saja melalui denah asal-asalanku yak untuk gambaran.

Asoy.

Lanjut.

Aku pun mencoba bangkit dari tiduran dan menoleh ke arah pintu yang menghubungkan dengan ruang meja makan. Aku mengamati keramiknya sekilas. Kinclong sekali. Namun ada yang aneh : kinclongnya sedikit bergelombang. Aku sekejap terdiam, lalu berucap :

‘Yan, itu ruang meja makanmu, banjir ya?’

Dian menoleh, Farkhan pun demikian.

Aku menelan ludah sejenak, kemudian mengingat-ngingat sesuatu. Hmm, kayaknya ada sesuatu, tapi apa ya… Hmm…

ANJING, TASKU DI BAWAH MEJA MAKAN.

Tanpa ada aba-aba yang berarti, kami bertiga pun lantas beranjak dari sofa dan menuju ke ruang meja makan. Disitu, kami merasakan bahwa air sudah setinggi mata kaki, dan tasku yang kuletakkan di bawah meja telah basah kuyup sekali. Jaket Farkhan yang diletakkan di lantai pun demikian. Dian? Ya tasnya juga demikian, mana isi tasnya adalah ijazah wakakaka.

banjir auw

Kami bertiga pun lantas mengakak bersama, memaklumi kebodohan yang kami lakukan. Dian pun mencoba mengusir air-air banjir itu keluar rumah, istrinya membantu dengan sigap di sampingnya. Aku dan Farkhan kembali ke ruang tamu dan menyemil martabak.

Bajingan memang kami berdua. Tapi bo’ong, karena kami memberi kesempatan pada keluarga kecil itu berquality time dengan kesibukan.

Tetap saja bajingan. Tapi bo’ong ah.

Selesai dengan kegiatan kuras menguras banjir, kami bertiga lantas lanjut mengobrol di ruang makan saja. Menanti hujan reda dan bicara apa saja. Namun sepertinya, hujan tidak akan reda. Hingga waktu menunjukkan pukul sebelas malam, benar-benar hujan tidak mereda.

Menghargai waktu dan suhu yang dingin, lantas aku dan Farkhan pun pamit untuk pulang. Hawa dingin dan hujan begini memang layak untuk bercinta, maka, waktu dan tempat kami persilakan kepada Dian nantinya.

Baru mencoba menyalakan motor dan mengecek kondisi motor, aku menaruh curiga pada ban bagian belakang yang siang tadi bocor dan sudah aku tambal. Karena penasaran, kucoba mengecek kembali tekanan pada ban.

dan ternyata,

bajingan.

bocor lagi, anjing.

Ehe.

Akhirnya aku pulang dengan meminjam motor Dian. Daripada aku tidak pulang, dan Dian tidak bisa cukup leluasa untuk aw aw? Ya dengan rela ia pasrahkan motornya padaku. Tapi tenang, siang tadi sudah ku kembalikan.

Wakwaw.

Terimakasih hal-hal baik dan menyenangkan. Semoga bisa lagi kapan-kapan yahay hay.

2 comments

  1. Duh sedih kali ya kalau tetiba tergenang kemudian banjir 😅 monmaap mau ketawa melihat kondisi tas sobat promo ini. Semoga ijazahnya Dian juga gapapa ya. Bagaimana kondisi saat ini? Semoga sudah aman ya, biar bisa bakar2an lagi, uhuy

  2. Waaaduh udh seneng2 Bebakaran, kok ya malah banjiiir. Energi daging lgs terkuras lagi ya mas :D.

    Liat kalian nge grill, aku jd pengen ngedagiiing hahahah. Udh lamaaa ih. Sejak pandemi, akupun LBH milih yakiniku an di rumah mas. Beli kompornya sendiri :D. Apalagi aneka dagingnya skr ini banyak dijual terjangkau. Malah lebih puaaas sih yaa :D. Apalagi kalo sambil nonton Korea wkwkwkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s